Minggu, 05 Mei 2019

Kisah Persiapan Sakramen Penguatan

Patung Yesus Kerahiman Ilahi dari Antonius
Setelah baptis pada tanggal 15 April 2017 lalu, selama masa Paskah, tidak ada kelas mistagogi. Kelas mistagogi akan dimulai bersamaan para simpatisan (calon katekumen) baru yang akan masuk. Jadi, masa Paskah aku habiskan untuk mengikuti Ekaristi harian ataupun mingguan.

Saat itu, aku mulai mempraktikkan pengakuan dosa. Setelah meminta saran dari Antonius, sahabatku, aku melakukan pengakuan dosa sebulan sekali, seperti yang dilakukan neneknya. Neneknya berdasarkan ceritanya, adalah seorang yang sangat religius. Doa paginya saja 77 Bapa Kami. Wow!

Jujur saja, selama mistagogi tidak ada banyak hal yang terjadi. Hanya saja kami lebih banyak berdoa dan berpraktik dibanding sekedar belajar seperti di masa katekumenat dulu. Pada pertemuan terakhir, aku menerima surat baptisku.

Sesudah itu, aku nekat langsung mendaftarkan diri untuk persiapan Sakramen Penguatan (banyak sih yang daftar dari angkatanku). Nekat karena salah satu syaratnya adalah "merupakan warga Gereja Katolik minimal 1 tahun", sedangkan saat itu aku baru sekitar 3 bulan menjadi orang Katolik. Tetapi tidak ada yang menghalangiku, semua berjalan lancar saja.

Kelas persiapan Sakramen Penguatan lebih menyenangkan buatku dibanding katekumen dulu, karena teman sekelasku semuanya seumuran (walaupun aku yang paling tua di kelas, aku kelas 12 SMA waktu itu). Cara belajarnya pun mirip dengan sekolah. Hanya saja, buat para pembaca yang dewasa, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana dengan kelas dewasa karena aku masuk kelas remaja.

Salah satu hal yang paling berkesan adalah ketika melaksanakan tugas "Kerja Nyata". Dalam tugas ini, kami harus melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Kelompokku punya ide untuk membantu mengajar di salah satu rumah cerdas di daerah sekitar tempat tinggalku. Aku pun setuju. (Catatan: dan ketika itu aku sadar, bahwa aku gak bisa ngomong sama anak kecil :D)

Akhirnya pada tanggal 22 Oktober 2017, aku menerima Sakramen Penguatan. Namun sayang sekali, yang menerimakan sakramen waktu itu bukan uskup, melainkan vikjen. Nama vikjen itu adalah Christophorus Tri Harsono, yang kini menjadi Uskup Purwokerto.

Setelah rangkaian Sakramen Inisiasi selesai, aku mulai harus bertekun dalam pelayanan dan hidup doaku pribadi. Aku harus tetap rajin mengaku dosa, rajin berdoa, dan terus menggali makna kehidupan melalui doa dan devosi gerejawi.

Beberapa lama sesudah penerimaan Sakramen Penguatan, Antonius memberikanku patung di atas. Patung itu seakan menjadi pertanda di masa mendatang, sebab kini aku sungguh mengagumi Santa Faustina Kowalska dan sering (tidak selalu) mendaraskan doa Koronka.

Jumat, 03 Mei 2019

Aku Kembali Gaes :)

Wow, sudah 2 tahun aku tidak mengupdate blog ini. Sudah sangat berdebu ya rupanya, hehe :).

Sebenarnya alasan awal aku menulis blog ini adalah untuk mencatat pengalamanku selama persiapan baptis hingga dibaptis sebagai wujud syukurku dan sebagai pewartaan kecil, supaya orang lain yang ingin menjadi Katolik tidak ragu-ragu lagi, bisa membaca pengalamanku yang detail namun tidak rumit.

Namun sekarang, aku tiba-tiba teringat blog ini, dan aku ingin lanjut menuliskannya dengan pengalaman rohani yang aku lalui dan terutama, kisah singkatku semasa persiapan penerimaan Sakramen Penguatan.

Semoga apa yang aku tulis ini bisa bermanfaat buat para pembaca sekalian. Tuhan memberkati.

Jumat, 21 April 2017

Pekan Suci sampai Baptisan - Part 3

Kalung Salib Baru: Tanda Kelahiran Baru
Pertama-tama aku minta maaf karena part 3 dari entri "Pekan Suci sampai Baptisan" terlambat untuk dipublish, karena aku harus benar-benar mengingat-ingat apa saja rangkaian acara selama pembaptisan.

Pada hari Sabtu Suci, aku sebisa mungkin tidak terlalu banyak melakukan aktivitas. Aku lebih banyak mempersiapkan diri dengan mengemas beberapa benda yang harus ku bawa nantinya, seperti Puji Syukur, buku Presensi Calon Baptis (buku berisi informasi katekumen dan tanda tangan kehadiran kelas katekumen, Ekaristi, dan kegiatan Lingkungan), dan juga bingkisan untuk wali baptisku. Setelah semuanya siap, aku berusaha tidur siang agar pada perayaan Malam Paskah, aku tidak mengantuk dan dapat mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir.

Medali Sto. Christophorus: Tanda Penyertaan Santo Pelindung
Menurut para katekis, tahun-tahun sebelumnya pada saat perayaan Malam Paskah, banyak calon baptis yang jatuh pingsan karena terlalu gugup dan belum makan malam. Misa Malam Paskah durasinya sangat panjang (bisa sampai sekitar 3 jam). Dan dalam hal ini, aku tidak mau menjadi calon baptis pertama yang bukan jatuh pingsan namun ketiduran saat misa. =D

Misa Malam Paskah akan dimulai pukul 21:00. Aku bersama wali baptisku berangkat bersama, dan sampai sekitar 19:45 di gereja. Itu adalah permintaanku agar aku dan wali baptisku berangkat 1,5 jam sebelum misa Malam Paskah dimulai. Diadakan briefing singkat mengenai tata cara pembaptisan. Sebenarnya, hal ini sudah dijelaskan sebelumnya oleh para katekis, namun kali ini juga dijelaskan secara langsung kepada wali baptis.

Misa Malam Paskah dimulai dengan Upacara Cahaya. Seluruh lampu gereja dimatikan, lilin-lilin umat (diambil sebelum masuk gereja, di pintu gerbang) belum dinyalakan. Melalui speaker, aku bisa mendengar Pastor berkata-kata namun dia berada di luar gereja. Pastor memberkati (kalau berdasarkan buku liturgi Pekan Suci, lilin Paskah itu digores oleh Pastor sesuai urutan, namun aku tidak melihatnya karena Pastor ada di luar gereja) lilin Paskah yang sangat tinggi dan besar itu. Termasuk apinya pun diberkati. Apinya dibagikan kepada umat untuk menyalakan lilin masing-masing melalui lilin-lilin lain oleh petugas tata tertib dan misdinar. Lilin tersebut juga diarak dan pada saat tertentu, umat berlutut (kurang lebih sama seperti perarakan Sakramen Mahakudus pada Kamis Putih dan perarakan salib pada Jumat Agung).

Kemudian, ada Pujian Paskah. Bagiku, Pujian Paskah ini mirip dengan Mazmur Tanggapan (mirip bukan berarti sama), karena ada pada bagian tertentu umat menanggapi pujian tersebut. Pujian Paskah dibawakan dengan nada yang mirip dengan Prefasi (perkataan yang dikatakan Pastor sebelum menyanyikan Kudus). Yang membawakan Pujian Paskah waktu itu adalah seorang frater.

Saat Liturgi Sabda, lampu dinyalakan dan lilin umat dimatikan (lilin Paskah yang besar itu tetap menyala). Bacaan yang dibacakan lebih banyak dari misa biasa, yakni terdapat 3 Bacaan Perjanjian Lama, 4 Mazmur Tanggapan, Bacaan Epistola, dan Bacaan Injil. Setelah homili, pembaptisan dilaksanakan, diawali dengan pemberkatan air baptis dan Litani Para Kudus.

Aku cukup gugup saat itu namun tetap aku tetap dapat melaksanakan semuanya dengan baik. Akhirnya, saat air baptis itu dituangkan 3 kali di kepalaku, aku menjadi umat Katolik. Aku sungguh bangga dan senang, usahaku selama 1 tahun tidak sia-sia sama sekali, bahkan aku berhasil dengan baik. Kemudian aku diurapi dengan minyak di ubun-ubun (Sakramen Penguatan terpisah di gerejaku), diberikan kain putih, dan lilin baptis.

Aku juga menerima Komuni Pertamaku. Dari awal, aku sempat "iri" melihat mereka yang sudah bisa menerima Komuni sedangkan aku hanya duduk diam, sekarang aku bisa ikut serta dengan mereka menerima Komuni.

Sepulang dari gereja, aku memberikan hadiah kepada wali baptisku sebagai tanda terima kasihku. Aku pulang dengan perasaan bangga dan sangat senang, tetap bersemangat walaupun sudah tengah malam.

Selasa, 18 April 2017

Pekan Suci sampai Baptisan - Part 2

Rosario dan Kitab Suci
Setelah Minggu Palma, aku menghabiskan waktu di rumah pada hari Senin, Selasa, dan Rabu pada Pekan Suci. Aku masih ingat, Rabu Pekan Suci, tahun lalu, aku pergi ke gereja bersama Antonius untuk mengikuti misa sekaligus menyerahkan formulirku kepada sekretariat paroki.

Pada saat Kamis Putih, aku tidak mengikuti Tuguran (mengenang Yesus yang pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa) karena aku tidak terlalu paham dengan Tuguran dan aku ingin menjaga kondisiku agar tetap fit sampai pembaptisanku (Tuguran itu berakhir pada tengah malam).

Aku mengikuti misa Kamis Putih sore (yang malam disertai Tuguran). Yang berbeda dari misa biasa adalah adanya pembasuhan kaki dan pemindahan Sakramen Mahakudus. Pembasuhan kaki mengenang peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Murid-murid Yesus di sini diwakilkan dengan 12 orang pilihan yang kakinya akan dibasuh oleh Pastor.

Satu hal yang menarik, setelah penerimaan Komuni (aku belum ikut), setelah itu aku berdoa berlutut tanpa alas lutut. Karena, sebelahku adalah pasangan kakek-nenek yang membawa beberapa barang dan meletakkannya di alas lutut yang belum diturunkan. Aku bisa saja meminta mereka untuk menggeser barang-barang mereka namun tidak apa-apa, sekali-sekali aku mencobanya. Mungkin di kesempatan lain aku tidak dapat (dan sebaiknya tidak perlu) melakukannya lagi.

Pada saat Jumat Agung, suasana gereja sangat berbeda. Tidak ada musik, tidak ada suara bel dan gong, dan semua terlihat kelam, mencekam. Terutama saat pembacaan Injil yang dibacakan dengan dilagukan, suasana terasa seakan "umat menyerahkan Kristus untuk disalibkan". Sekalipun hanya berupa nyanyian, tetap suasana merasuk ke dalam diriku, bahkan lebih dari ketika aku menonton film tentang sengsara Kristus.

Setelah itu, dilakukan penciuman salib. Jadi umat secara perorangan maju menuju salib yang di sediakan dan mencium salah satu luka Kristus (tepatnya di kaki Yesus). Aku juga ikut serta.

Pada saat penerimaan Komuni, aku berada di kursi depan. Prodiakon selalu langsung membagikan Komuni di tempat duduk baris terdepan. Waktu itu, prodiakon sudah mengangkat hosti dan berkata "Tubuh Kristus". Hampir saja aku menjawab "Amin" dan berdosa. Aku langsung menyilangkan tangan di depan dada. Prodiakon itu langsung mengerti dan menuju ke kursi yang lain. Kali ini, aku diuji lagi. Memang besoknya aku akan menerima Komuni (Pertama). Di sini kesabaranku juga dilatih.

Aku diberikan tidur malam yang nyenyak oleh-Nya sehingga aku dapat bangun pada hari Sabtu Suci dengan segar dan sehat.

Pekan Suci sampai Baptisan - Part 1

Salib di Kamarku dengan Daun Palma
Ini juga sudah lebih dari sebulan aku tidak menambah entri. Terima kasih atas doa-doa para pembaca sekalian, karena telah menerima pembaptisanku pada Misa Malam Paskah yang agung dan khidmat.

Aku akan memulai cerita dari Minggu Palma, karena Minggu Palma adalah awal dari Pekan Suci. Aku memang cukup nekat kali itu, karena aku langsung mengikuti misa dengan perarakan (padahal aku tidak pernah ikut misa Minggu Palma sebelumnya). Aku segera membeli buku liturgi Pekan Suci yang harganya tidak sampai 10 ribu. Buku itu sangat membantu aku dalam merayakan misa-misa pada Pekan Suci yang tata caranya asing bagiku.

Sehari sebelumnya, aku mengambil entah daun apa (yang jelas bukan daun palma) yang bentuknya mirip dengan daun palma. Tanaman tersebut terletak di tanah kosong (jadi tidak ada pemiliknya). Papaku dengan keras membujuk aku untuk mengambil daun palma dari tanaman palma milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Aku bersikeras menolaknya. Entah apa yang terlintas di pikirannya waktu itu. Mungkin ini salah satu ujian bagiku

Ternyata, daun palma telah disediakan dari gereja. Dan akhirnya, daun entah-apa-itu aku buang sepulang misa Minggu Palma.

Perarakan dilakukan di jalan depan gereja. Setelah perarakan, aku menentukan "tahun depan kalau aku ikut misa Minggu Palma, aku akan pilih misa dengan perarakan." Perarakan tersebut sungguh mengingatkan aku akan peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem.

Bacaan Injil dibacakan dengan cara bergantian (antara lektor dan lektris, dengan Pastor sebagai peran Kristus). Sisanya, misa berjalan seperti biasa.

Aku pulang dengan pengalaman baru. Pengalaman ini tentu akan berguna untuk tahun-tahun ke depan ketika aku mengikuti misa Minggu Palma.

Rabu, 15 Maret 2017

Aku Kangen dengan Blog Ini

Rosario Milikku
Sudah sekitar sebulan aku tidak menambah entri di blog ini. Hari ini, aku memutuskan untuk menambah entri lagi di blog ini.
 
Terima kasih buat pembaca yang selama ini membaca blogku sekalipun aku jarang update. Maafkan ya :D

Jadi ceritanya setelah aku Live In, beberapa minggu kemudian aku menghadapi UTS (Ulangan Tengah Semester). Jujur saja, dari semua ujian tertulis yang pernah ku hadapi, menurutku ini yang paling buruk. Entah kenapa, belakangan ini nilaiku agak "berantakan". Aku berusaha untuk memperbaiki pada ujian berikutnya, namun aku rasa itu tidak mudah.

Aku bersyukur akan satu hal, surat yang ku minta dari sekretariat paroki untuk mengurus KTP (tertulis dalam entri sebelumnya) sangat berguna. Aku menuruti kata hatiku untuk tetap meminta surat keterangan tersebut sekalipun para katekis mengatakan hal itu tidak perlu dan tidak berguna. Salah satu katekis bahkan menjawabku dengan nada yang cukup keras tentang hal ini. Namun semua itu sudah berlalu.

Baru saja kemarin, aku menjadi perwakilan sekolah dalam Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota OSN 2017 bidang Matematika. Aku memang menyukai Matematika, dan selama SMA ini, nilai Matematikaku selalu baik. Hanya saat UTS lalu saja, nilai Matematika Peminatanku (khusus SMA IPA) jatuh. Mungkin itu cukup merusak rasa percaya diriku.

Namun menurutku, dengan rasa percaya diri yang maksimal sekalipun, aku tidak dapat mengerjakan soal dengan baik. Berhubung aku belum pernah mengikuti olimpiade sebelumnya, soal yang muncul di luar ekspektasiku. Apa yang aku pelajari dari buku-buku olimpiade dari perpustakaan dan guruku, hampir tidak ada yang muncul. Aku bukan menyalahkan buku-buku tersebut ataupun pengajaran dari guruku, namun memang aku saja yang belum berpengalaman.

Tepat sebulan lagi aku dibaptis, tantangan dan ujian imanku semakin berat. Kuasa jahat semakin serius dalam membelokkan jalanku. Doakan aku ya, supaya aku dapat melewati semua ujian dan tantangan ini. Amin.

Aku harap, cerita-cerita ini dapat menjadi inspirasi bagi orang yang mulai menanggapi panggilan atau sedang dalam proses menanggapi panggilan Tuhan seperti aku saat ini.

Senin, 13 Februari 2017

Semakin Dekat, Semakin Menantang

Patung Maria di samping Salibku
Setelah Tahap II, keesokan harinya aku langsung berangkat ke Desa Kapencar, Kab. Wonosobo untuk melakukan kegiatan Live In dari sekolahku. Kegiatan Live In ini semakin meneguhkan imanku.

Setelah Live In, entah kenapa seakan waktu berjalan lambat sekali. Mungkin karena pembaptisanku sudah tidak lama lagi. Jujur saja, aku sangat tidak sabar menunggu hari yang bersejarah dalam hidupku itu.

Namun ada kejadian unik kemarin. Biasanya setiap hari Minggu saat aku pergi ke gereja cuaca selalu cerah. Hal itu karena aku berdoa saat tidur di malam sebelumnya dan di pagi hari saat bangun tidur, memohon cuaca yang cerah. Saat hendak berangkat, hujan turun cukup deras sehingga aku memutuskan untuk naik mobil. Saat masuk mobil hujan berhenti. Sebelumnya, meskipun naik mobil aku tetap memutuskan untuk memakai jaket dan payung, entah kenapa.

Selesai kelas katekumen, hujan mulai turun deras. Namun aku sudah siap karena aku sudah membawa payung, sehingga aku bisa berjalan-jalan untuk menuju mobilku. Dan jaketku, aku gunakan untuk menutupi tasku agar Puji Syukur dan Alkitab di dalamnya tidak basah.

Seperti pada salah satu entri sebelumnya, terlihat seakan Tuhan "memainkan" cuaca agar aku tidak kehujanan. Namun aku rasa, kali ini Tuhan ingin membawaku kepada "level" iman yang lebih tinggi lagi. Mungkin bagi-Nya, aku sudah bukan anak kecil lagi yang perlu terlalu dimanjakan, tapi bukan berarti Dia meninggalkanku. Dia tetap memberi arahan namun semuanya terserah padaku yang melakukannya.

Sebentar lagi, aku akan memiliki KTP. Yang jadi masalah adalah, agamaku di dalam Kartu Keluarga tentu saja bukan Katolik dan itu bisa saja sangat merepotkan. Aku sudah meminta surat keterangan dari gerejaku bahwa aku sedang mengikuti katekumen dan akan dibaptis 15 April mendatang (semacam surat agar aku bisa melampirkan surat baptis menyusul). Aku sebenarnya tidak tahu sama sekali bahwa ini diperlukan atau tidak. Aku hanya berjaga-jaga. (Catatan: bagi para pembaca yang mungkin paham tentang kondisi seperti ini dalam pembuatan KTP dan cara mengatasinya, silahkan menulis di kolom komentar. Segala saran dan bantuan sangat berharga bagiku.)

Dan sekarang, tugas sekolah semakin menumpuk. Aku jadi semakin sulit membagi waktu dan fokus ke pelajaran sekolah maupun katekumen (beruntung, salinan Injil Markus sudah ku selesaikan). Doakan aku para pembaca sekalian, agar aku tetap teguh menghadapi apa pun yang menghalangiku untuk menerima pembaptisan dan menjadi umat Tuhan, yakni umat Katolik yang sejati. Amin.

Minggu, 29 Januari 2017

Tahap 2 - Pemilihan Calon Baptis

Patung Keluarga Kudus
Pada hari ini, aku mengikuti upacara Tahap II, yakni pemilihan katekumen menjadi calon baptis. Aku semakin dekat dengan hari pembaptisanku. Namun, bagiku hari ini adalah hari terberat dalam hal katekumen.

Aku akan bercerita dari awalnya dahulu. Orang tuaku hari ini harus menghadiri acara bersama teman-teman mereka sehingga aku tidak bisa diantar ataupun dijemput mereka. Awalnya, aku hendak memesan ojek online, namun hujan turun cukup deras (Tambahan: Gereja dan rumahku terpisah oleh jalan raya yang cukup besar). Beruntungnya, wali baptisku mau mengantarkanku berhubung dia juga perlu hadir dalam upacara ini.

Kemudian, sebelum mengikuti rangkaian kegiatan pada hari ini, aku mengikuti misa pada jam 10.00. Tidak ada hal yang unik dalam misa hari ini, sama seperti hari-hari biasanya.

Setelah misa selesai, aku kembali dibuat panik karena wali baptisku yang setelah mengantarku pergi karena suatu urusan, sedikit terlambat sehingga aku harus memulai sesi makan siang tanpa ditemani wali baptis. Namun akhirnya, di pertengahan sesi makan siang dia datang. Bagiku, keterlambatannya tidak memberi efek buruk apapun karena upacara Tahap 2 belum dimulai.

Sebelum upacara tahap 2 dimulai, diadakan semacam pembekalan mengenai Gereja Katolik bertemakan "Aku Bangga Menjadi Orang Katolik". Penyampaian materinya menarik dan interaktif. Namun bagiku, saat yang aku tunggu-tunggu hanyalah liturgi Tahap 2.

Sekitar jam 2.30, Upacara Tahap 2 dimulai berbarengan dengan Tahap I (bagi mereka yang baru memulai kelas katekumen). Puncak acaranya adalah pemberian minyak katekumen pada kedua belah tangan oleh Romo. Hal yang kutunggu-tunggu telah tiba. Sekarang aku sudah menjadi calon baptis.

Dan sekarang, karena beberapa kali kehujanan, aku merasa tidak enak badan (seperti kaku leher). Padahal, besok adalah hari penting bagiku karena aku akan berangkat ke Wonosobo untuk mengikuti kegiatan Live In dari sekolah.

Hari yang berat ini aku hadapi dengan optimis. Aku tetap berusaha karena aku tahu apa tujuanku. Hari ini telah menjadikanku pribadi yang lebih teguh dalam iman. Sekalipun berat dan menyusahkan, aku diajar untuk menjadi seseorang yang tahan uji secara perlahan.

Minggu, 22 Januari 2017

Alasan Menjadi Katolik - Suatu Penegasan

Salib Pertamaku
Mungkin di blog ini aku sudah pernah menulis tentang alasan menjadi Katolik (bahkan sampai ada dua part). Namun ada beberapa hal yang perlu aku tegaskan karena bagiku tulisanku pada waktu itu terbilang masih belum matang, berhubung sewaktu itu saya baru beberapa bulan berada dalam kelas katekumenat.

Pada entri ini, aku cantumkan gambar sebuah salib. Ketahuilah, itu adalah salib yang pertama kali aku miliki, yang semakin membuka jalanku menuju Gereja Katolik. Namun bisa dibilang, di dalam toko aku membeli salib tersebut, salib tersebut adalah salib yang paling murah dan bisa dikatakan kualitasnya jauh di bawah salib-salib yang lain yang dijual di toko itu, berhubung waktu itu aku tidak mempunyai uang lebih.

Perlu dicatat bahwa di sini aku tidak membicarakan soal materi, apalagi soal harga sebuah salib. Salib hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk disembah apalagi sampai dijadikan "tuhan".

Sesungguhnya, ada sebuah pelajaran yang dapat diambil dari sini. Kita dapat menanggapi panggilan untuk menjadi umat Katolik dengan hal-hal yang sederhana, contohnya menghafal doa-doa, memiliki barang-barang rohani dan sebagainya. Tetapi hal-hal yang sederhana ini pula dapat membawa kita menuju sesuatu yang lebih besar.

Bagiku, alasan menjadi Katolik adalah mengenai seberapa peka dan rindu kita kepada Tuhan. Contoh, namaku di blog ini adalah Chris. Chris adalah nama yang akan menjadi nama baptisku, yakni Christophorus. Mengapa? Karena aku sadar bahwa panggilanku pertama-tama adalah untuk memuliakan dan mengabdi kepada Tuhan Allah. Anda bisa membaca cerita tentang Christophorus (Kristoforus) di website Katolik atau buku tentang riwayat Santo dan Santa.

Dari panggilan itu pula, kita rindu akan Allah. Kita ingin dekat dengan Allah, dan ingin Allah dekat dengan kita. Kita ingin di setiap detik di hidup kita, susah atau senang, sedih atau gembira, dan gagal atau berhasil ada Tuhan di sisi kita. Menguatkan dan melindungi kita.

Semoga kita semua menjadi peka terhadap panggilan dari Tuhan untuk ikut serta dalam Gereja-Nya yang kudus. Dan semoga bagi yang sudah menyadari panggilannya, dapat mempertahankan panggilan tersebut sampai akhir hidupnya. Amin.

Tambahan: Minggu depan, tanggal 29 Januari 2017 aku akan mengikuti Tahap II - Pemilihan Katekumen Terpilih Menjadi Calon Baptis. Doakan aku, agar aku mampu menjalani upacara tersebut dengan baik, dan semakin mempersiapkanku menuju baptisanku. Amin.

Minggu, 25 Desember 2016

Selamat Natal!

Gua Natal Kecil
Selamat Natal semuanya, baik yang sudah merayakan ataupun yang akan merayakan (pasti tahu apa maksudku). Semoga damai sejahtera dari Kristus Yesus, Juruselamat yang telah lahir, menyertai kita sekalian. Amin.

Tanggal 24 Desember kemarin, aku mengikuti misa Malam Natal di gerejaku. Suasananya sungguh agung. Ini adalah kali pertama aku mengikuti misa Malam Natal, sehingga masih ada beberapa hal yang cukup asing bagiku.

Sebelum misa dimulai, dilakukan Perarakan Kanak-Kanak Yesus ke Gua Natal (bukan foto yang di atas). Tata caranya masih asing bagiku. Lampu-lampu dimatikan sehingga memberi kesan sakral. Setelah itu koor menyanyikan lagu-lagu natal dengan suara yang sungguh merdu. Pada bagian Kemuliaan (Gloria in excelsis Deo), dinyanyikan sambil dibunyikan lonceng-lonceng. Suasana bertambah agung. Kemudian dilanjutkan misa seperti biasa.

Misa kali ini gereja sungguh ramai. Aku sudah datang 1 jam sebelum misa dimulai, namun aku hampir saja tidak dapat tempat di dalam gereja. Memang masih ada tempat di luar gereja, tetapi kalau di luar kan gak kerasa misanya.

Homili dari Romo juga cukup menarik, bahwa nilai kesakralan Natal sudah bergeser akibat modernisasi. "Esensi Natal adalah Kelahiran Yesus, itu saja," kata Romo saat homili. Kini, Natal lebih dikaitkan dengan keglamoran dan kemewahan, sedangkan Tuhan saja dengan rendah hati mengambil wujud manusia, bahkan lahir di kandang domba.

Sungguh, kali ini aku baru merasakan Natal yang lebih bermakna dari biasanya. Berkat homili dari  Romo di Malam Natal, aku semakin memahami makna Natal yang sejati.

Tambahan: 24 Desember kemarin, aku menyelesaikan tugas setahun menyalin Injil Markus!

Minggu, 11 Desember 2016

Saat Ini

Kalung Salibku
Halo semua. Maaf sekali belakangan ini aku jarang sekali update blog ini. Aku baru saja menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) yang berakhir tanggal 7 Desember kemarin. Doakan aku agar hasilnya memuaskan sepadan dengan segala usaha dan persiapan yang aku lakukan. Amin.

Oh iya, nilai Ujian Katekumen I -ku 100! Sekarang aku buktikan buat pembaca sekalian bahwa ujian tertulis ini bukan hal yang perlu ditakutkan dalam proses pembelajaran katekumen. Tetapi yang lebih berat adalah ujian hidup.

Jujur saja sekarang aku mulai bosan dengan katekumen yang sudah ku hadiri sejak Mei lalu. Padahal, pelajaran ini selesai bulan April 2017. Masih cukup panjang, bukan? Karena itu sering kali aku semakin berat untuk pergi ke kelas katekumen (perlu dicatat aku bukan malas misa). Selain itu, kondisi kelas dimana hanya aku yang masih siswa sekolah menyebabkan aku hanya kelihatan sebagai "bawahan" pelajar-pelajar di kelasku. Kadang sulit sekali untuk menolak permintaan mereka seperti foto catatan, remote AC, dan sebagainya berhubung mereka lebih tua dariku.

Tetapi sekalipun mereka lebih tua dariku, bukan berarti mereka lebih daripadaku saat pelajaran. Aku telah membuktikan lagi bahwa usia bukanlah halangan untuk menjadi yang terbaik. Sekalipun masih remaja, dalam hal katekumen ini aku sekurang-kurangnya lebih satu langkah di atas orang-orang dewasa di kelas. Karena itu, para pembaca yang berniat untuk ikut serta dalam kelas katekumen yang usianya sepantaran dengan saya (bukan anak-anak, bukan dewasa), jangan ragu untuk mengemukakan pendapat dan tunjukkan bahwa bukan usia yang menentukan pengetahuan ataupun kebijaksanaan, melainkan usaha, niat, dan pengalaman.

Tetapi sekali lagi pengetahuan bukanlah apa-apa dalam pelajaran katekumen. Esensi katekumen adalah pembinaan panggilan, bukan pengetahuan. Di sini para pelajar akan dibekali agar mampu menjawab panggilan dari Tuhan sendiri untuk menjadi umat-Nya. Jadi apabila pengetahuan para pembaca sekalian mengenai Katolik belum dalam, jangan berkecil hati. Sejalan dengan proses waktu, Tuhan akan membimbing secara langsung, agar semakin mengenal Dia dan mengenal kasih-Nya yang luar biasa.

Sampai di sini dulu ya, sampai ketemu di entri berikutnya!

Minggu, 13 November 2016

Tuhan Penjaga dan Benteng Perkasa

Patung Bunda Maria
Ini sudah seminggu dari tanggal ujian dan aku belum mengetahui hasilnya sampai sekarang. Minggu lalu aku mengerjakan ujian itu dengan cukup baik, karena aku menyerahkan segalanya kepada Tuhan, seperti biasanya aku menjalani ujian-ujianku di sekolah. Aku berharap aku memperoleh hasil yang terbaik. Amin.

Judul entri kali ini kuambil dari salah satu refrain dari Mazmur Tanggapan (Puji Syukur No. 847). Mengapa aku mengambil judul yang demikian? Karena aku mengalami kebahagiaan dan kedamaian, serta berbagai keberhasilan karena Tuhan yang Maha Kuasa menaungi aku.

Pada hari ini, aku mengalami kejadian yang cukup unik. Seperti biasa, aku selalu berdoa agar saat aku pergi ke gereja dan mengikuti kelas katekumen, tidak terjadi hujan. Doa itu selalu terkabul, bahkan di hari ini. Hari ini awalnya terjadi hujan lebat. Aku tetap optimis berdoa.

Saat aku sampai di gereja, hujan mulai turun dan aku melihat umat-umat lain menggunakan payung. Aku sempat gelisah karena aku masih harus berjalan sedikit untuk menuju ke kelas katekumen. Aku pasti kehujanan jika pergi menuju kelas. Namun aku buang jauh-jauh pikiran itu, karena aku percaya bahwa Tuhan tidak akan mengecewakan aku. Dan benar terjadi, saat Romo memberi Berkat dan Amanat Pengutusan, hujan berhenti, sehingga aku bisa berjalan ke kelas.

Sepulang dari kelas katekumen, aku merasa bahwa Tuhan mengasihiku dan Tuhan rindu untuk menjadikanku umat-Nya. Selain doa sederhana di atas, aku selalu berdoa agar aku bertekun dalam katekumen dan mampu mempersiapkan diri untuk menjadi umat yang seutuhnya. Dan Tuhan selalu memampukan aku. Sejauh ini aku belum pernah putus asa apalagi sampai berhenti. Ujian iman yang berat semuanya ku lalui bersama-sama dengan-Nya.

Menjadi Katolik memang tidak mudah dengan segala rintangan yang ada. Tetapi Tuhan selalu hadir untuk menopang dan menolong kita. Tuhan mengetahui batas kemampuan kita dan tidak akan menunda-nunda untuk menolong kita, asalkan kita bertekun dalam permohonan yang berkenan kepada Allah.

Keputusanku memilih menjadi Katolik pada awalnya juga dipenuhi dengan doa. Karena itu, apabila kalian masih ragu untuk mengikut Katolik, berdoalah agar supaya ditunjukkan jalan yang terbaik bagi kalian. Apapun jalan itu, yakinilah bahwa itulah yang terbaik.

Dalam kesulitan tekunlah berdoa. Jawaban yang menyegarkan hati akan datang segera.

Senin, 31 Oktober 2016

Menjadi Katolik Tidaklah Mudah

Salib Duduk
Pada entri sebelumnya aku mengatakan bahwa "menjadi katekumen itu menyenangkan". Tetapi menjadi Katolik bukan berarti tanpa kesulitan sama sekali.

Pertama, kalian harus siap merelakan hari Minggu kalian untuk pelajaran katekumen (terkadang ada kelas katekumen yang bukan di hari Minggu). Mengikuti perayaan Ekaristi adalah wajib, dan apabila menjadi pelajar katekumen, mengikuti kelas katekumen juga adalah wajib. Aku belum pernah bolos absen, tetapi terkadang aku sendiri sering kali kesulitan membagi waktu antara sekolah dan katekumen (karena sebagian besar ulangan harian ada pada hari Senin).

Kedua, sekalipun kalian sudah memiliki keinginan besar untuk dibaptis, niat yang besar, dan pengetahuan yang dalam akan Katolik, kalian tetap harus belajar di kelas katekumen. Karena di sini yang terpenting bukanlah pengetahuan, tetapi iman yang tahan uji.

Dua hal yang ku jelaskan di atas adalah hal yang konkret. Kalau pengalamanku pribadi, sebagai pelajar katekumen, aku sering merasa "iri" kepada mereka yang sudah bisa menerima Komuni. Aku hadir dalam perayaan Ekaristi, namun aku belum diperkenankan untuk ikut serta menyambut Komuni. Hal ini kadang menjadikan perasaanku tidak enak.

Aku juga sering kali jatuh bangun dalam niat. Ada suatu waktu aku dirundung berbagai masalah sehingga aku menjadi malas untuk pergi belajar ke kelas katekumen. Tetapi, apabila aku tidak bertahan, maka akan sampai kapan?


Menjadi katekumen memang menyenangkan, tetapi rintangan sampai akhir juga berat. Karena itu, yang bisa bertahan sampai akhir adalah orang yang memiliki iman dan niat yang teguh. Semoga aku, yang saat ini seorang pelajar katekumen, menjadi salah satunya. Amin.

Satu hal lagi, doakan aku supaya aku bisa sukses pada saat Ujian Katekumen 6 November yang akan datang. Ya, katekumen juga ada ujian tertulis. Namun ini hanya sekedar evaluasi pemahaman dan daya serap. Doakan aku, supaya aku bisa melakukan yang terbaik. Amin.

Seru Gak sih Jadi Katekumen?

Salib Dinding dari Wali Baptisku
Setelah pelantikan 26 Juni lalu, tentu saat ini pelajaran sudah tidak seringan masa prakatekumenat lalu. Sekarang pelajaran lebih diperpadat dan lebih tinggi tingkat kesulitannya. Terkadang, katekis tertentu memberikan pekerjaan rumah (PR) yang tentunya harus bisa ku selaraskan dengan pekerjaan-pekerjaan sekolahku.

Hal pertama yang bisa ku katakan seru adalah perasaan bahwa aku sudah memasuki sebuah perjalanan yang memiliki akhir yang indah. Aku optimis, bahwa baptisan yang akan ku terima adalah luar biasa dan mengagumkan. Maka, sering kali aku tidak sabar menunggu hari itu. Hari besar itu.
Yang kedua, karena aku lumayan aktif dalam lingkungan, menurut para anggota lingkungan lain, aku terbilang unik. Kenapa? Karena biasanya jarang sekali pelajar katekumen yang sudah berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan (sekalipun sedikit). Namun hal ini juga karena kebijakan gerejaku supaya pelajar katekumen juga aktif dalam lingkungan.

Yang terakhir, dan yang paling penting. Karena baptisan adalah kelahiran kembali dalam Roh, aku memperoleh kesempatan untuk melupakan masa laluku yang kurang menyenangkan. Sehingga aku merasa "seperti tidak ada beban" lagi yang mengganjal. Tidak ada lagi dendam yang terpendam.

Kesimpulannya, masih ada banyak lagi hal-hal yang menyenangkan dalam menjadi pelajar katekumen. Menjadi pelajar katekumen itu menyenangkan, asalkan kalian bisa menikmati masa 1 tahun yang akan menjadi kenangan seumur hidup.

Tambahan: bagi yang belum paham apa yang aku maksud "lingkungan".
Dalam Gereja Katolik, setiap paroki memiliki wilayah-wilayah. Wilayah tersebut terbagi menjadi beberapa lingkungan. Jadi, lingkungan itu kurang lebih seperti "RT" dalam kehidupan sehari-hari.

Minggu, 23 Oktober 2016

Tahap 1 - Pelantikan Katekumen

Salib Duduk dan Kitab Suci
Tanggal 26 Juni 2016, jam 3 sore, adalah sebuah tahap permulaan bagiku. Hari itu aku dilantik sebagai katekumen (peserta di dalam kelas katekumenat). Seperti yang tertera pada gambar, salib dan Kitab Suci adalah benda yang wajib dibawa pada saat pelantikan, karena akan diperciki air suci oleh Romo. Namun salib yang ada pada gambar bukanlah salib yang ku bawa saat pemercikan air suci waktu itu, karena salib itu agak sulit untuk diraih dan difoto. :)

Pada saat itu kelas anak-anak dan dewasa digabungkan sehingga jumlah orang pada saat itu cukup banyak. Pelaksanaan upacaranya juga berbeda dengan misa biasa.

Aku ditempatkan di golongan remaja (meskipun sebenarnya tidak ada kelas remaja) sehingga aku terpisah dengan bapak-bapak yang ada di kelasku.

Wali baptisku hadir dan memberikanku hadiah. Dia membawakanku Kitab Suci dan salib dinding, sehingga akhirnya aku memiliki 2 Kitab Suci. Awalnya aku tidak ingin menerima Kitab Suci pemberiannya karena juga masih dibungkus (sehingga dapat dikembalikan ke toko) namun aku akhirnya tetap menerimanya karena dia mendesakku.

Wali baptisku mendampingiku dari awal sampai akhir upacara. Aku pun semakin mengenal wali baptisku yang tidak lain adalah orang tua salah satu teman sekolahku sendiri.

Setelah upacara selesai, aku melanjutkan untuk mengikuti misa sore. Sayang sekali wali baptisku tidak bisa mendampingiku karena ia sudah mengikuti misa pagi pada hari ini. Aku pun, seperti biasa, mengikuti misa itu sendirian.

Hari yang singkat, namun sangat berarti bagiku. Jarak antara tahap 1 dan tahap 2 sangat jauh, sekitar + 6 bulan. Saat itu juga aku dituntut untuk rajin mengikuti pelajaran katekumenat.

Aku tentu sangat senang hari itu. Komitmenku untuk menjadi umat Katolik masih kuat dan tetap terjaga saat itu dan sampai saat ini. Aku berharap, aku akan tetap teguh sampai penerimaan Sakramen Baptis, penerimaan Sakramen Penguatan, bahkan sampai akhir hidupku. Amin.

Selasa, 18 Oktober 2016

Eitss... Sabar Dulu...


Patung Yesus
Sebelum perjalananku menjadi umat Katolik dimulai, aku bahkan sudah mengalami hal yang hampir mengancam jiwaku.

Sekitar pertengahan April, aku terkena demam tipoid (orang-orang biasa menyebutnya typhus) sekaligus demam berdarah dengue (DBD). Sebelumnya hanya pusing-pusing sedikit saja, namun semakin parah dan aku terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit. Ternyata jumlah trombositku sangat rendah.

Sebelumnya, saat aku masih di sekolah (dalam keadaan demam sangat tinggi), aku sempat melihat patung Bunda Maria yang menggendong Bayi Yesus, seakan berbicara padaku agar tetap kuat, karena perjalananku bahkan belum dimulai.

Rutinitasku di rumah sakit sangat monoton, bahkan aku tidak bisa bermain alat musik favoritku, piano dan biola. Aku pulang dari rumah sakit setelah 1-2 minggu dirawat di sana.

Tanggal 1 Mei 2016, aku mulai memasuki kelas katekumenat. Aku tidak menemukan satu pun teman sebaya (anak SMA) di kelasku. Ada beberapa anak-anak SMP namun terpisah kelas, karena pelajar SMA termasuk kelas dewasa, sedangkan SMP termasuk kelas anak-anak. Aku mendapat tugas 1 tahun, yakni menyalin ulang Injil Markus.

Murid-murid di kelas masih disebut simpatisan, yakni masa + 8 minggu sebelum berlangsungnya Tahap 1 dalam Persiapan Sakramen Baptis. Tahap ini disebut prakatekumenat.

Kalau boleh jujur, pada awalnya kelas ini sangat membosankan karena aku tidak menemukan teman satu pun, teman sekelasku seluruhnya orang dewasa.

Tentang misa, awalnya aku belum berani ikut serta. Pengalaman misa pertamaku adalah ketika aku terlambat datang ke gereja sehingga aku mendengarkan homili Romo dari selasar luar gereja. Namun, sejak 5 Juni 2016, aku mulai mengikuti misa setiap hari Minggu (tentu belum diperkenankan menyambut Komuni).

Masa prakatekumenat berlangsung sampai 26 Juni 2016. Barulah setelah itu, pelajaran yang sesungguhnya akan dimulai.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Alasan Menjadi Katolik Part 2

Kitab Suci dari Wali Baptisku dan Salah Satu Rosario Milikku
Setelah retret, mungkin keinginanku menjadi umat Katolik akan hilang. Tidak. Keinginanku semakin besar dan tak terbendung lagi. Aku bahkan sudah tidak bisa menahan diriku lagi untuk tidak menceritakannya kepada orang lain. Orang pertama yang kepadanya ku bercerita adalah Ibu. Ia mendukungku dalam hal ini. Sehingga, aku memutuskan untuk bercerita kepada Antonius, karena hanya dia teman yang ku percaya.

"Aku merasakan kedamaian yang luar biasa saat berdoa dengan Tanda Salib," kataku kepadanya. "Aku ingin mengikuti pelajaran persiapan baptis. Seberapa pun lamanya, aku akan menjalaninya. Maukah kamu membantuku?" Tanyaku kepada Antonius (kurang lebih gitu lah, hehe). Dia bersedia.

Pada tanggal 8 Maret 2016, aku ditemani Antonius pergi menuju sekretariat gereja di dekat sekolahku. "Aku merasa gugup," kata Antonius kepadaku. Aku tertawa dan bertanya mengapa dia yang gugup, padahal aku yang akan mengikuti pelajaran persiapan baptis (yang belum ku ketahui namanya waktu itu). "Aku 'kan dibaptis waktu bayi, aku gak pernah pergi ke sekretariat ngurus hal seperti ini," katanya. Benar juga. Dia memang dibaptis sewaktu bayi dengan nama baptis Benedictus. Antonius adalah nama krismanya.

Sesampainya di sekretariat paroki, aku ditanyai banyak hal. Dalam hal ini, Antonius banyak membantuku dalam memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aku diberi formulir. "Bu, aku juga mau sekalian beli Puji Syukur, ada gak?" Tanyaku. "Puji Syukur habis, mas. Tapi.. sebentar," kata petugas sekretariat paroki. "Ini, ambillah," katanya. Aku diberinya sebuah Puji Syukur. Lalu, aku mengeluarkan uang dari kantungku. "Tidak, ini gratis. Aku memberikannya kepadamu," katanya. Aku berterima kasih.

Luar biasa, awal perjalananku sudah memperoleh berkat. Lalu aku menunggu sampai tanggal 1 Mei 2016. Hari itu adalah hari pertamaku mengikuti kelas katekumen...

Tambahan: Selain kedamaian, aku pernah bermimpi tentang seseorang yang menyatakan bahwa aku akan lebih mampu memuliakan Tuhan di Gereja Katolik. Mimpi itu tidak kulupakan sampai sekarang, karena aku merasa itu adalah panggilan dari Tuhan sendiri.

Alasan Menjadi Katolik Part 1

Kitab Suci dari Wali Baptisku dan Salah Satu Rosario Milikku
Di post sebelumnya aku mengatakan bahwa aku adalah seorang katekumen. Katekumen itu, orang yang dalam masa persiapan untuk menerima sakramen inisiasi yang pertama, yaitu Sakramen Baptis.

Catatan: Aku tidak akan menyebut apa agamaku sebelum agama Katolik, karena hal itu akan memicu hal-hal yang tidak diinginkan.

Awal cerita, sewaktu aku masih berusia 15 tahun, aku merasa ingin sekali pergi ke Gereja Katolik dan menjadi salah satu umat dari Gereja Katolik. Hal ini pertama kali terjadi sekitar tanggal 13 Februari 2016. 

Pada hari Senin, 15 Februari 2016, sekolahku mengadakan retret bagi siswa-siswi kelas 10 (saat itu aku masih kelas 10). Aku meminjam rosario dari teman baikku, sebut saja Antonius (bukan nama panggilan, tapi nama sungguhan). Rosario adalah barang wajib yang perlu dibawa saat itu, dan aku belum memilikinya.

Retret waktu itu dibagi menjadi dua gelombang karena jumlah siswa yang terlalu banyak. Sayang sekali aku terpisah dengan Antonius, sehingga dia pergi terlebih dahulu. Selagi ia dan teman-teman lainnya pergi, aku berusaha memeriksa batin:
"Apakah ini hanya karena retret, sehingga aku merasa ingin menjadi umat Katolik? Apakah hanya karena aku ingin menjadi seperti teman-temanku yang sudah menerima Komuni, bahkan sudah menerima Sakramen Penguatan (Krisma)?"
Retret gelombang kedua berangkat hari Rabu dan pulang kembali hari Jumat. Di sana aku semakin mengenal Gereja Katolik. Aku tidak akan menceritakan seluruhnya, karena terlalu panjang. :D

 Pertanyaanku terjawab, keinginanku tidak hilang sama sekali.

Next: Part 2

Kenalan Yuuk.. :)

Halo. Namaku Chris, memang bukan nama panggilanku, tapi ini namaku sungguhan kok!

Aku saat ini 16 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMA di salah satu SMA Katolik. Temanku lumayan banyak, kegilaan mereka juga banyak sekali. Ingin sekali rasanya aku menikmati masa-masa sekolahku yang sebentar lagi akan berakhir.

Blog ini ditulis olehku untuk berbagi pengalamanku tentang Katolik. Oh iya, sekarang aku seorang katekumen. Tahun depan aku akan dibaptis. Mohon doanya yaa..

Mudah-mudahan tulisan-tulisanku dapat menjadi inspirasi orang lain untuk semakin berani ikut serta dalam sakramen-sakramen inisiasi, yang adalah tahap-tahap untuk menjadi umat Katolik yang seutuhnya.

Selamat membaca!